Tuesday, December 30th, 2008 | Author:

Kenalkah saudara dengan Abdurahman bin Auf, minimal pernah dengar namanya?. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah yang Kaya hartanya tapi miskin pelitnya. Hartanya dibelanjakan dijalan Allah yang hanya semata-mata untuk beramal meraih ridha-Nya.

Suatu hari Abdurrahman bin Auf menjual tanah seharga 40 ribu dinar. Lalu uang yang setara dengan Rp. 40 Miliar itu dibagi-bagikan semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para istri Nabi dan kaum fakir miskin. Untuk keperluan tempur, ia pernah menyerahkan 500 ekor kuda pilihan sebagai perlengkapan bala tentara Islam. Dan di hari yang lain, ia serahkan 1500 unta dan masih banyak yang lain.

Menjelang wafatnya, ia berwasiat 50 ribu dinar (setara dengan Rp 50 Miliar) untuk dibelanjakan di jalan Allah. Lalu diwasiatkannya pula bagi setiap ahli Badar (pejuang perang Badar) yang masih hidup, masing-masing 400 dinar atau setara dengan Rp. 400 juta per orang. Masya Allah..

Sebelum sukses di Madinah, Abdurrahman bin Auf dicoba Allah dengan ujian yang sangat berat dimana ia harus berhijrah ke Madinah dengan meninggalkan kota Mekkah yang notabene adalah daerah kelahiran dan tempat dimana profesi bisnisnya lebih kondusif dan punya masa depan. Mekkah adalah kota perdagangan, sedangkan Madinah adalah kota yang sama sekali baru baginya. Tetapi ujian ini ditanggapi dengan ikhlas dan niat yang teguh dengan keyakinan yang penuh, ia meninggalkan Mekkah kota kelahirannya.

Saat Abdurrahman bin Auf hijrah ke Madinah, ia tidak membawa harta yang banyak. Bahkan ia dalam keadaan kekurangan. Melihat keadaan ini Rasulullah SAW merpersaudarakan ia dengan penduduk Madinah, Sa’ad bin Ar-Rabi’. Ketika melihat keadaan Abdurrahman saat itu, Sa’ad berkeinginan memberikan sebagian hartanya. Bagi orang yang punya sikap mental meminta mungkin akan melihat tawaran itu sebagai kesempatan emas yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Tapi bagaimana mental Abdurrahman?.

Meski saat itu ia dalam keadaan kekurangan, tawaran itu ditanggapi dengan bijak, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaan Anda. Tunjukkan saja kepadaku, di manakah pasar kota kalian?”. Jawaban yang singkat, yang mencerminkan mentalnya yang anti dibelaskasihani. Ia lebih memilih hidup dari jerih payahnya sendiri dengan bekerja keras.

Sejak ditunjukkan pasar, ia pun mulai melakukan aktifitas berdagangnya dengan semangat dan antusias. Dan ternyata talenta bisnisnya memang luar biasa. Dengan sungguh-sungguh dan penuh amanah ia mengurus perniagaannya itu hingga terus berkembang dan berkembang. Abdurrahman bin Auf menyuburkan bisnisnya dengan sedekah. sedekahnya yang mencapai miliaran seperti tertulis diatas itu tidak membuat hartanya berkurang malah bertambah.

Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa bercita-cita hidup dengan harta yang berlimpahan adalah tidak dilarang. Bahkan dengan sikap yang benar, harta yang banyak bisa menjadi jalan kemulian. kita perlu belajar dari Abdurrahman bin Auf, bagaimana menguasai dunia dan tak kuasai dunia. Dengan demikian harta dunia membawa pada kehidupan yang mulia, dunia, dan akhirat.

Note: Artikel ini diambil dan diedit dari Majalah Suara Hidayatullah Edisi 08 |XXI|  Desember 2008, tanpa mengurangi inti dari artikel Hikmah tersebut.

Possibly Related Posts:


Category: Agama
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
  1. Aulia says:

    Mantap bang adi, na postingan agama lage nyoe rupa…

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

NoFollow Plugin made by Web Hosting

Check Google Page Rank