Ini adalah perjalanan pertama saya ke Malaysia. Perjalanan yang memang sungguh diidamkan sejak ayah saya masih ada. Ada banyak cerita dari perjalanan saya ke Malaysia, tapi hanya beberapa saja yang saya ceritakan disini.
Sungguh perjalanan ini hanya akan terjadi karena kecintaan kepada seorang ibu (selanjutnya disebut bunda) yang meminta untuk ditemani berobat ke Malaysia. Selain itu niatan orang tua (alm. Ayah) yang ingin memperakrab ikatan kekeluargaan anak-anaknya di Aceh dengan keluarga di Malaysia. Ini merupakan anugerah terbesar sejak adek ayahnya kakek hijrah ke Malaysia beberapa puluh tahun silam. Berawal dari cucunya yang di Malaysia (sepupunya ayah) mencari saudara-saudaranya di Aceh karena silsilah yang dibuat atok (sebutan kakek di Malaysia) di sebuah kertas silsilah yang umurnya mungkin lebih tua dari saya, hingga dipertemukanlah keluarga kami dengan mereka. Alhasil sebagai balas kedatangan, beberapa bulan kemudian sejak sepupu ayah sampai ke Aceh, ayah dan ibunda berangkat ke Malaysia untuk menjalin silaturrahmi. Hingga saat itu ayah lebih sering bolak-bolik Aceh-Malaysia untuk berobat daripada ke Jakarta yang tiketnya lebih mahal.
Malaysia, di mata orang Aceh lebih dijadikan wisata berobat (medical tourism) daripada yang lainnya. Karena kesehatan menjadi prioritas utama dalam hidup ini. Orang beranggapan: Kalau sudah sehat, kemana saja bisa ditempuh. Tapi tidak hanya itu, beberapa kawan malah sudah menjadikan malaysia sebagai destination based tourism ke beberapa tempat terkenal di Kuala Lumpur seperti, menara kembar petronas, masjid besar malaysia, lake gardens, national palace, dan banyak lainnya. Juga tidak ketinggalan perpustakaan P. Ramlee yang juga dikagumi di Aceh karena beliau juga salah satu keturunan orang Aceh.
Bagaimana dengan saya? Walau tidak sempat banyak berkunjung ke beberapa tempat menarik di Malaysia, Alhamdulillah saya sudah ke Masjid Putra Jaya di komplek kementrian Malaysia. Betul-betul sungguh elok pemandangan sekitarnya. Ini tempat yang sangat saya rekomendasi kalau kawan-kawan ingin kesana apalagi secara kita orang Muslim. Menara kembar petronas juga merupakan prioritas pengunjung dari beberapa negara termasuk saya. Nan indah diwaktu malam dengan diterangi cahaya-cahaya lampu yang menguatkan kekokohan menara tersebut. Saya sempat mengabadikan beberapa foto diluar menara tersebut tapi sayang belum sempat naik ke menara itu.

Setelah dari Kuala Lumpur, saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi saudara di Sungai Petani, Kedah. Disanalah ibunda saya berobat untuk penyembuhan lutut dan sendi kakinya. Memang tempat yang kita kunjungi ini diakui kepakarannya oleh dokter-dokter di Rumah Sakit (Hospital) Pulau Pinang, Malaysia. Pulau Pinang adalah sebuah pulau yang mayoritas orang Aceh banyak berobat kesana.

Kalau sudah ke Kedah, perhatian orang Aceh tentu ke sebuah perkampungan yang dikenal dengan Kampung Aceh. Disana ibarat kita memang tinggal di Aceh, dari nama jalan, rumah panggung, kebiasaan sehari-hari hingga berbicara pun juga kental dengan bahasa Aceh. Masih di Kedah, ditemanin ponakan, saya melanjutkan jalan-jalan ke sebuah Museum Arkeologi yang terletak di Lembah Bujang, Merbok. Disini kita bisa melihat berbagai macam peninggalan pahatan dan bekas candi-candi. Bersebelahan dengan tempat itu ada bekas Tapak Kesan Sejarah Bukit Batu Pahat yang terletak di sungai Merbok. Tapak ini diyakini dibuat sekitar abad ke 11 – 12 Masehi untuk pembinaan candi yang berbentuk bendul pintu. Sudah sangat lama.

Sebelum meninggalkan Malaysia, tempat terakhir yang saya kunjungi adalah Agro Pelancongan Chalet Terapung yang juga ada di Merbok. Ini merupakan tempat refreshing yang saya sukai. Karena di Aceh saya tidak pernah mendapatkan rumah apung yang seperti ini. Sangat cocok untuk menyalurkan hobi yakni memancing atau sekedar menghabiskan akhir pekan.

Sisi pertanian, terutama padi memiliki kesamaan panen seperti di Indonesia. Menariknya disini adalah sistem pemotongan padi yang tidak menggunakan tenaga manusia melainkan menggunakan sebuah mobil pemotong yang bisa menghemat waktu dan tenaga. Ini menjadi sebuah tontonan unik terutama bagi saya yang berasal dari Indonesia khususnya Aceh yang belum pernah melihat teknologi seperti ini. Tapi sayangnya saya melihat banyak bulir-bulir padi yang terbuang yang tidak dikutip seperti halnya kita petani di Indonesia. Pengalaman pribadi ketika dulu pernah menjadi pemotong padi di sawah sendiri :).

Malaysia memberikan banyak pelajaran kepada saya tentang negeri ini. Transportasi , pengembangan kawasan, infrastuktur, fisik dan prasarana, teknologi, pengelolaan tempat wisata, kedisiplinan, hingga peraturan yang dibuat benar-benar dijalankan dan dipatuhi oleh penduduknya. Karena faktor-faktor inilah, saya ingin kembali lagi ke Malaysia tapi dengan tujuan wisata dan kalau bisa GRATIS. Semoga keinginan ini bisa tercapai melalui Kampanye Wisata Selangor : My Selangor Story 2011 yang diadakan pariwisata Selangor.
Possibly Related Posts:
- Foto-foto Kubah Masjid Tsunami
- Aceh Coffee Festival 2011: Kopi Aceh Kopi Sedunia
- Foto Menarik Google+
- Melirik Tablet Android Honeycomb yang Terbaik & Murah
- Investing in Gold Coin
Incoming search terms for the article:
- kampung aceh
- kampung aceh yan kedah
- pengalaman wisata ke malaysia
- chalet terapung di pulau pinang
- kampung aceh kedah
- Museum Arkeologi Lembah Bujang
- pulau pinang
- tempat berobat di malaysia
- berobat di malaysia
- pemotong padi
- pengalaman berlibur ke malaysia
- Pengalaman jalan jalan ke penang
- pengalaman wisata di penang malaysia
- rumah percutian
- seputar menara kembar di malaisya
- Saya warga malaysia ingin kesana
- pengalaman wisata ke penang
- pelancongan malaysia
- panen padi di sawah selangor
- orang acheh malaysia
- berobat di hospital pulau pinang
- berobat malaysia
- blog pengalaman org yg berobat di malaysia
- cerita jalan-jalan ke malaysia
- chalet terapung yg ada tmpat memancing di pulau pinang
- chalet untuk memancing
- kampong aceh
- kampung acheh yan
- malaysia di mata orang aceh
- memancing
- berasal dari mana p ramlee
- wisata menjalin keluargaan

