Wednesday, January 11th, 2012 | Author:

wudhu

Dalam agama Islam, bersuci merupakan salah satu pokok ajaran utama yang sering kita temui dalam kitab-kitab fiQh. Ini menjadi penting karena salah satu alasan syarat sahnya sembahyang seseorang itu harus bersih dari hadast dan suci dari najis. Apabila seorang telah terkena najis, maka ia wajib membersihkannya.

Najis terbagi atas 3 (tiga) bahagian:

1. Najis Mughallazhah (tebal). Najis ini menyangkut dengan anjing. Kaifiat (cara) mencuci benda yang terkena najis ini adalah dengan membasuh tujuh kali, satu kali daripadanya hendaklah airnya dicampur dengan tanah.
Sabda Rasulullah s.a.w:
“Cara mencuci bejana seseorang kamu, apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali, air pertama hendaklah dicampur dengan tanah”.
(Riwayat Muslim)

2. Najis Mukhaffafah (enteng), seperti kencing anak-anak laki-laki yang belum makan makanan selain dari susu. Kaifiat mencuci benda yang terkena najis ini adalah memadai dengan memercikkan air atas benda itu meskipun tidak mengalir. Adapun kencing anak-anak perempuan yang belum makan selain dari susu, maka kaifiat mencucinya hendaklah dibasuh sampai mengalir air di atas benda yang kena najis itu dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, sebagaimana mencuci kencing orang dewasa.

Sabda Rasulullah s.a.w:
“Sesungguhnya Ummu Qais telah datang kepada Rsulullah s.a.w beserta anaknya laki-laki kecil yang belum makan makanan selain daripada susu sesampainya di depan Rasulullah beliau dudukkan anak itu dipangkauan beliau, kemudian dikencinginya, lalu beliau meminta air, lantas beliau percikkan air itu kepada kencing anak-anak tadi, tidak beliau basuh kencing itu”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah s.a.w:
“Kencing anak-anak perempuan dibasuh dan kencing anak-anak laki-laki disiram”
(Riwayat Tirmidzi)

3. Najis Mutawassithah (pertengahan), yaitu najis yang lain daripada dua macam yang tersebut diatas. Najis pertengahan ini terbagi atas 2 (dua) bahagian:

a. Dinamakan najis hukmiah, yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya, baunya, rasanya, dan warnanya. Seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang kena itu.
b. Najis ‘Ainah, yaitu yang masih ada zat, warna, rasa atau baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dima’afkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa, warna dan baunya.

Sumber: Ditambah dan Ditulis kembali dari buku FiQh Islam Karangan H. Sulaiman Rasjid.

Possibly Related Posts:


Category: Agama
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
  1. Ilmu religi yang sangat bermanfaat tapi terkadang kurang diperhatikan, tetap pertahankan publish konten yang bermanfaat seperti ini. Sejahtera untuk Aceh salam dari Hobi Burung Kicau

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

NoFollow Plugin made by Web Hosting

Check Google Page Rank