Thursday, December 26th, 2013 | Author:

gempa-dan-tsunami-aceh-tahun-2004

Tsunami 9 tahun yang lalu menyegarkan kembali ingatan saya dimana kenangan yang pernah tersimpan di dalam memori kembali diputar tentang dahsyatnya gempa dan tsunami 2004 yang melanda sebagian Aceh. Hampir 170.000 jiwa meninggal dunia pada hari tersebut dan puluhan ribu rumah rusak berat dan ringan.

Tsunami sendiri berasal dari bahasa jepang yang diambil dari kata tsu = pelabuhan dan nami = gelombang  yang mempunyai arti secara harfiah ombak besar di pelabuhan. Dimana berpindahnya volume air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Dalam bahasa Aceh sendiri tsunami disebut dengan ie beuna. Berdasarkan Kamus Bahasa Aceh – Belanda karangan Hoesin Djajadiningrat, arti dari ie beuna adalah gelombang tinggi yang berasal dari laut melanda daratan, diakibatkan karena gempa. Walau kedua kata diatas memiliki makna yang sama, tapi kata tsunami merupakan kata yang sangat melekat dalam ingatan masyarakat Aceh.

Tsunami Aceh membawa banyak cerita menarik yang  sayang untuk dilewatkan. Mungkin anda pernah mendengar tentang terbelahnya air tsunami di beberapa masjid di Aceh ketika dilewati, Ular besar yang menjadi petunjuk jalan bagi korban tsunami, kerelaan binatang yang bersedia mengganti tempat sebagai tempat selamat bagi manusia, dan banyak lainnya yang bisa dibaca di Internet. Tapi ada baiknya anda merelakan waktu sebentar untuk membaca kisah saya yang mungkin tidak akan anda temukan di kisah Tsunami lainnya.

Masih terngiang diingatan saya, tentang perkataan yang keluar dari mulut seorang ayah. Saat itu saya masih berada di sekolah menengah pertama. Dan adik perempuan saya masih duduk di sekolah dasar. Sudah menjadi kebiasaan seorang anak, hiburan merupakan sesuatu yang menjadi kewajibannya. Berbagai pinta kepada orang tua sering kita lantunkan secara merdu, tersedu-sedu bahkan dengan nada ‘lempar batu kena kaca..’ criiing. Meminta jajanan, berjalan ke tempat wisata, sampai permintaan lainnya yang mesti dikabulkan orang tua. Sebagai orang tua, sebagian besar permintaan kita selalu dikabulkan disaat kita masih kecil kecuali beberapa hal yang tidak mungkin dan dalam keadaan tidak memungkinkan. Dan perkataan pun keluar sebagai alasan yang harus diterima oleh sang anak.

Adik perempuan kecil SD saya adalah salah seorang anak yang suka dengan alam. Mandi di sungai kampung itu adalah sesuatu hal yang luar biasa. Tentu ini dikarenakan di pinggiran kota tempat kami tinggal tidak ada sungai yang sebersih dan sejernih di samping rumah nenek kami. Begitu juga dengan laut, pesona pantai dan pasir membuat ia senang dengan tempat ini. Akhir pekan adalah hari yang ayah mengajak kami untuk mandi laut. Walau tidak sering kali, minimal sebulan 1 atau 2 kali kita berwisata kesana atau bahkan tidak sama sekali. Kesenangan ini membuat sang adik terbiasa meminta untuk kesana. Satu dua tiga kali masih dipenuhi. Tapi keseringan malah membuat sang ayah mencari alasan untuk tidak selalu harus kesana. “Laot mantong hantom dijak bak tanyoe (Laut saja tidak pernah ke tempat kita)” begitu alasan klasik ayah saya.

Perkataan tersebut memang terlalu berbobot dan tidak mungkin untuk dibantah. Paut yang memisahkan antara rumah kami dengan pantai itu berjarak lebih kurang 3 Km. Sesuatu hal yang tidak mungkin kita nalar pada saat itu. Apalagi masa-masa itu, kita masih kecil dan masih belum punya wawasan yang luas seperti sekarang ini. Belasan tahun kata-kata tersebut hilang dari peredaran karena memang kita sudah besar dan ayahpun tidak mengatakan itu lagi hingga Tsunami pun melanda Aceh pada tahun 2004 dan rumah kita juga ikut kena. Saat itu saya masih belum mengingat perkataan yang pernah ayah saya ucapkan hingga pikiran saya membisikkan hal tersebut beberapa bulan kemudian.  “Jameun ayah sering geukheun watee adek lakee jak u laot, ternyata pu yang geu pegah nyan betoi-betoi troek (Dulu ayah pernah bilang ketika adek merengek-rengek minta pergi mandi laut, ternyata apa yang pernah ia katakan benar-benar sampai)”. Begitu saya bergumam didalam hati. Dan peristiwa tersebut menjawab pernyataan yang tidak mungkin terjadi yang pernah diucapkan ayah saya belasan tahun yang lalu.

Alhamdulillah, walau rumah kami tidak terlalu parah dan bisa dikatakan air terakhir tsunami (penghabisan) , tapi  Allah ingin menampakkan kebesaranNya walau hanya sebatas perkataan yang tidak mungkin yang hanya keluar dari seorang mulut manusia. Akhir kata, semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran dalam berhubungan dengan keluarga dan bertuturkata dengan masyarakat.

TSUNAMI
T = Tuhan
S = Suruh
U = Umat
NA = NAbi
M = Muhammad
I = Insyaf

Wallahu’alam bishshawab.[]

sumber gambar: http://sekoteng.files.wordpress.com/2009/09/aceh.jpg

Possibly Related Posts:


Category: Aceh
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

NoFollow Plugin made by Web Hosting

Check Google Page Rank