Archive for the Category » Nanggroeku «

Saturday, December 05th, 2015 | Author:

Wisata Greenland Aceh Besar

Aceh memiliki sederetan tempat wisata yang bagus-bagus dan mengasyikkan. Terutama di Aceh Besar, kabupaten yang memiliki tempat wisata yang paling banyak dikunjungi. Seperti, pantai lhoknga, pantai lampuuk, pemandian air panas di Krueng Raya, Air terjun lhong, Benteng Indrapatra dan banyak lainnya yang bisa anda lihat di website Aceh Besar Tourism.

Beberapa tempat wisata aceh tersebut mungkin sudah biasa dikunjungi oleh wisatawan lokal Banda Aceh dan Aceh Besar. Tapi sekarang ada tempat baru di Aceh Besar yang patut dipertimbangkan untuk dikunjungi terutama buat keluarga yang ingin menghabiskan akhir pekannya dengan nyaman dan santai.

Greenland Jantho merupakan salah satu dari tempat wisata yang mesti anda kunjungi yang berada dibawah kaki bukit barisan. Tempatnya indah dengan dihiasi pemandangan Gunung seulawah dan bukit barisan. Ngomong tempat berarti juga ngomong makanan apa yang disajikan. Ketika saya kesini menghadiri acara Aceh Blogger Gathering tentu yang menjadi perhatian saya itu masalah makanan. Secara saya memang manis dan sedikit gendut saya wajib merasakan masakan kokinya. Dan ternyata makanannya itu meu Aceh Ghayeuk (baca: aceh besar) banget. Kalau udah makan pasti harus lih singkee. Pu na lom.. Hehehe…

Ayam Bakar Greenland, Wisata Greenland
Blogger, Masakan Aceh Ghayeuk, Wisata Aceh

Tuh, menggiurkan kan….

Makanya, ajaklah keluarga anda kesini. Tunggu apa lagi…

Possibly Related Posts:


Sunday, August 17th, 2014 | Author:

Pagi itu cuaca masih belum terlalu terik karena mentari sedang mengambil posisinya untuk bisa lebih bersinar di ketinggian derjat. Lautpun masih terlalu tenang dari gelombang. Nampak dari kejauhan ombak masih enggan untuk melengkupkan dirinya. Disini, sebuah kampung yang waktu tsunami 2004 menjadi kampung terparah dilanda kehancuran. Tidak ada yang tertinggal kecuali beberapa pohon besar yang masih dibiarkan Tuhan untuk menjadi saksi bisu dan tempat sebagai tanda, bahwa pohon itu pernah menjadi “warga” sebuah kampung nelayan yang berada di pesisir laut.

Namanya kampung Pasir, karena memang berada di pesisir laut Aceh Barat. Kampung ini terletak di kecamatan Johan Pahlawan, kira-kira 1 km dari pusat kota Meulaboh (kalau ditarik garis lurus mungkin lebih pendek dari itu). Mayoritas penduduk disini menggunakan bahasa jamu atau lebih kenal bahasa jamee alias bahasa minang. Tapi tidak sedikit yang menggunakan bahasa Aceh dengan logat minang. Beberapa orang pria yang saya temui malah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantarnya. Nampak dari ngomongan mereka ketika bercanda sesamanya.

Peta Ancaman Kampung Pasir

Peta Kampung Pasir

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Sunday, August 17th, 2014 | Author:

Kawan…

Hampir sepuluh tahun gempa dan tsunami Aceh 2004. Serangkaian proses yang kita hadapi telah membentuk kita menjadi generasi yang tangguh dari bencana. Proses terbentuknya ketangguhan ini dilalui secara bertahap. Bukan sembarangan proses. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan bencana yang silih berganti telah mengajarkan kita akan artinya ketangguhan dalam berbencana. Kita korban, kita relawan dan kita pembangun. Yang membangunkan kembali pemukiman, pendidikan, pemerintahan, infrastruktur, ekonomi, dan segala sektor penting lainnya.

10 tahun itu bukan waktu yang cepat. Disana ada proses pembelajaran bencana yang terus berulang-ulang. Gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kebakaran dan berbagai macam jenis bencana lainnya telah mengajarkan kita akan kewaspadaan. Jika kita kembali membuka halaman lama saat gempa dan tsunami 2004 terjadi, begitu banyak korban yang jatuh akibat ketidakpahaman kita. Padahal gejala akan datangnya tsunami sudah tampak didepan mata tapi kita masih terpaku pada goyangan gempa. Jauh tahun kemudian, saat terjadi gempa kuat 11 april 2012, dimana saat itu masyarakat mulai menghindari bibir pantai dan mengungsi ke tempat yang aman seperti bukit dan gedung penyelamatan. Ini menjadi bukti bahwa pemahaman masyarakat terhadap gempa semakin meningkat.

sumber gambar: dallascounty.org

sumber gambar: dallascounty.org

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Wednesday, February 06th, 2013 | Author:

Sebelum saya bermain (baca: traveling, bero) ke pulau ini, yaitu pulau nasi, saya masih belum mengetahui persis nama pulau ini yang mana? Pulau nasi, pulau breuh atau pulau Aceh. Ketiga nama pulau ini memang sudah lama saya dengar tapi belum pernah menginjak kaki disana. Sesampai disanalah saya baru mengetahui bahwa pulau nasi adalah bahagian dari salah satu pulau dari pulau Aceh atau lebih tepatnya dibawah kecamatan Pulo Aceh kabupaten Aceh Besar.

Pulo Aceh terbagi kedalam 3 mukim yaitu mukim Pulo Breuh Utara, Pulo Breuh Selatan dan Mukim Pulo Nasi. Mukim Pulo Nasi yang saya kunjungi membawahi 5 kampung, yaitu kampung Alue Reuyeueng, Rabo, Deudap, Lamteng dan Pasie Janeng. Untuk bisa mencapai ke Pulau ini hampir tiap harinya ada transportasi laut loh. Lah namanya juga pulau, tentu harus menggunakan jasa laut yah? hihi.. Boat Nelayan adalah jasanya. Wah koq bisa? yah memang begitu. Anda harus siap tahan banting dari ‘amukan’ gelombang. Secara boatnya ukuraaaann.. hmm mau bilang kecil, bisa jadi, mau bilang besar, ya tidak sebesar KMP kepunyaan ASDP. Susah juga menentukan ukuran. Mungkin tepatnya lebih kurang muat 30-40 penumpang beserta sepeda motor dan keperluan penumpang. Dari Banda Aceh anda bisa berangkat melalui dermaga kecil yang ada di Ulee Lheue tepatnya diantara Kafe Wisata Kuliner dan Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh. Bout nelayan ke Pulo Nasi ini, sedianya berangkat jam 2 siang (14.00 WIB) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam ke pelabuhan/dermaga Lamteng dan kurang lebih 1 jam ke dermaga Deudap. Ini semua tergantung dari kondisi cuaca dan gelombang di laut. Setiap dermaga ini digunakan selang sehari. Misal hari ini dari Lamteng menuju ke Banda Aceh (bolak-balik), esoknya dari Deudap ke Banda Aceh (Bolak-balik). Lusanya baru dari Lamteng lagi.

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Monday, December 31st, 2012 | Author:

Mengelilingi Aceh merupakan kesukaan yang tiada banding. Salah satunya adalah mengunjungi kepulauan simeulue. Simeulue merupakan sebuah kabupaten yang ada di provinsi Aceh dan berada di samudera hindia. Dengan luas wilayahnya 203.148,63 hektar membuat simeulue terbagi menjadi 8 kecamatan yang mencakup 138 desa. Secara tofografis, simeulue merupakan daerah datar, bergelombang, berbukit dan bergunung curam dengan ketinggian yang tidak relatif tinggi. Mungkin sekitar 200 hingga 500 meter diatas permukaan laut.

Untuk bisa sampai ke pulau Simeulue ada 2 alternatif transportasi. Yaitu udara dan laut. Jika anda ingin menempuh jalur udara, sekarang bisa ditempuh melalui bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh. Sebelumnya jalur udara menuju ke Simeulue hanya bisa ditempuh melalui bandara Polonia Medan dengan menggunakan maskapai penerbangan SUSI Air dan Merpati. Harga tiketnya via medan juga bervariasi. Untuk maskapai Merpati lebih murah dibandingkan SUSI Air yaitu sekitar 400 rb (2011) dan untuk SUSI Air sekitar 700 rb.  Jika anda menanyakan ke saya mana yang lebih nikmat dari kedua itu. Keduanya sama-sama enak. Jika anda tahan dengan kebisingan suara mesin, menaiki pesawat SUSI air lebih mengasyikkan. Anda akan menikmati pemandangan yang luar biasa yang tidak anda dapatkan pada merpati. Sekali-kali untuk mengelak awan sang pilot akan melakukan manuver. Selain itu ia memiliki jendela yang lebih besar dari pesawat Merpati, dan anda akan seru melihat kecanggihan teknologi pesawat cesna beserta pilotnya yang ganteng-ganteng, semuanya bule. Hehe.

cesna-susi-air

landing

Rute laut adalah alternatif kedua. Rute ini berangkat dari pelabuhan air di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Waktu tempuh sekitar 9 jam menggunakan feri KMP Sinabang.  Jadwal pemberangkatan dari labuhan haji setiap hari Selasa, Jum’at dan Minggu jam 22.00 WIB.

KMP teluk Sinabang

Di Simeulue memiliki banyak tempat wisata. Seperti Pantai besung, pantai ganting, pantai alus-alus,  naibos,  danau lawik tawar,   makam Teungku Diujung, Makam  Tgk. Bakudo Batu (Banurullah), Taman laut Terumu Karang dan banyak lainnya. Pantai besung adalah salah satu pantai yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Pantai ini selain bersih, memiliki pasir putih dengan air yang bening. Gelombangnya juga tidak terlalu besar dan tenang, memang cocok untuk liburan keluarga di akhir pekan.

Sunset di Pantai Besung

Wisata Religi

Makam Teungku Diujung merupakan sebuah makam keramat yang berada di Kampung Latak Ayah desa Kuta Padang kecamatan Simeulue Tengah. Beliau adalah seorang ulama yang juga pendakwah yang dulunya menyebarkan agama Islam di Pulau ini. Hampir seluruh penduduk di pulau ini berhasil ia Islamkan.  Tsunami tahun 1907 dan 2004 yang dikenal dahsyatnya tidak membuat makam ini rusak. Penduduk disana sangat menghormati makam tersebut sehingga beberapa kawan yang sudah lama tinggal disana melarang saya mengambil gambar di makam itu karena ditakutkan akan terjadi hal ghaib yang mungkin tidak diinginkan.

Makam Tengku Bakudo Batu (Banurullah) adalah salah satu tempat wisata islami lainnya yang patut dikunjungi.  Beliau juga salah seorang ulama yang menyebarkan Islam disana ketika masa Kesultanan Iskandar Muda. Ini dibuktikan dengan adanya prasasti tujuh batu penyangga yang khusus dikirimkan sultan untuk mendirikan masjid yang sekarang berada di  desa Salur, Teupah Barat. Ketika saya menziarahi makam tersebut, salah seorang penduduk disana bercerita, bahwa di pokok (pohon) diatas makam ini ada sumber mata air yang tak pernah kering. Tapi sejak makam tersebut sekelilingnya di semen, air tersebut  sudah mengering.

makam-tgk-bakudo-batu-banurullah

Wisata Tsunami

Smong. itulah istilah yang digunakan masyarakat disana untuk Tsunami. Beranjak dari peristiwa Tsunami tahun 1907 masyarakat disini sangat paham jika air laut sudah surut. Tahun 1907 menjadi pelajaran penting bagi penduduk Simeulue saat itu yang selamat dimana ketika air laut surut masyarakat berlomba-lomba mendapatkan ikan dengan mudahnya. Tapi tidak mengira akan datang gelombang Tsunami (Smong) yang menghantam daratan dan memakan banyak korban.

Sekarang, sisa-sisa tsunami 1907 masih bisa dilihat dari bekas-bekas terumbu karang yang terhampar jauh ke daratan. Salah satunya yang telah saya kunjungi terletak di desa Naibos. Terumbu Karang ini terdampar di persawahan masyarakat setempat dengan jarak dari bibir pantai sekitar 500 meter. Padahal Tsunami 2004 saja tidak sampai sejauh itu yang hanya berpaut 100 hingga 300 meter dari bibir pantai. Objek wisata seperti ini sudah seharusnya dicanangkan dengan baik seperti yang dilakukan di Jepang.  Tapi sayang, pemerintah Simeulue belum benar-benar menggarap wisata Tsunami ini.

terumbu-karang-terhempas-jauh-tsunami-1907-simeulue

Masih di kawasan Naibos, disini kita bisa menatap pemandangan yang indah dengan panorama pohon-pohon kelapa yang tinggi. Air-air laut yang jernih membuat kita sangat ingin bisa berenang dilaut  tersebut. Bekas-bekas peninggalan perlawanan di masa penjajahan  juga masih tertata dengan baik.

benteng-pertahanan-di-desa-naibos

Wisata Kuliner

Simeulue terkenal dengan udang lobster nya. Penduduk disana menyebutnya dengan lahok. Lobster memang menjadi komuditi terkenal yang dipasok ke luar negeri seperti Jepang. Tidak heran, ketenaran lobster simelue diakui oleh Menteri Komunikasi dan Informatika dalam akun twitternya  yang bunyinya Subhanallah, rupanya ini lobster simeulue yg diekspor ke jepang dan manca negara itu…? *hiuks2*”. Tidak percaya? silahkan buka link http://pics.lockerz.com/s/203535630 untuk memastikan :)

Saya juga sudah merasakan kenikmatan lahok simeulue ini ketika travelling kesana. Sampai puyeng makannya karena  kolestorel binatang laut ini terlalu tinggi. Ayo dicoba.. Laziiiiisss..

lobster-yang-sudah-di-goreng

Tulisan ini diikutsertakan untuk mengikuti Kontes Blog MySelangorStory 2013 :)

MySS 2011: http://blog.adikcilak.com/2011/08/31/malaysia-menjalin-silaturrahmi-berobat-dan-wisata/


Possibly Related Posts:


Saturday, December 08th, 2012 | Author:

Waksyah, begitulah panggilan bapak tua berumur 60 tahun ini. Dengan nama panjang Syamsah Ahmad, sehari-harinya bekerja sebagai petani. Beliau tinggal di dusun monprei desa Alue Dua, Payah Gajah kecamatan Peureulak Aceh Timur. Desa ini berjarak 4-5 Km dari pasar Peureulak dengan kondisi jalan aspal dan berbatuan.  Monprei adalah sebuah dusun dari tiga dusun yang berada di kampung Alue Dua. Kampung ini dulunya merupakan kampung basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dari cerita yang saya dengar daerah ini memang sering terjadi kontak tembak antara TNI dan GAM pada masa konflik dulu.

Ditempat bekas basis GAM ini, Waksyah memiliki koleksi unik yang tidak dipunyai oleh orang-orang yang sekampung dengannya. Ia mempunyai buku-buku sejarah Aceh dan buku perjuangan gerakan. Buku-buku ini ia dapatkan dari para tentara GAM yang singgah di rumahnya. Kadang-kadang setelah membaca, mereka (para tentara GAM) meninggalkan buku tersebut dirumahnya hingga ia menyimpan buku-buku itu. Malah ada buku yang udah disimpan lebih dari 15 tahun.

Pasca penandatanganan damai antara pemerintah Indonesia dengan GAM, beliau mulai berpikir jika buku-buku tersebut dibaca oleh anak-anak dikemudian hari, ini akan membentuk pola pikir (doktrin) yang tidak baik di masa mendatang. Selain itu, dikampung ini sekolah dasar (SD) juga tidak ada.  Jika anak-anak ingin bersekolah mereka  harus melewati  3 kampung dengan berjalan kaki. Alasan inilah yang membuat Waksyah mendirikan taman bacaan yang bernama Taman Baca Monprei.

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Tuesday, May 01st, 2012 | Author:

3 tahun yang lalu saya pernah mengupload foto-foto Kereta Api (KA) Aceh. Waktu itu memang sedang panas-panasnya bahwa KA akan mulai lagi berjalan. Tapi sayang, selama 3 tahun sejak saat itu kita terus menunggu dan proses itu tak kunjung direalisasikan. Ntah permasalahan apa yang terjadi di lapangan.

3 tahun memang bukan waktu yang cepat. Waktu selama itu bisa membuat hal yang baru bisa saja jadi usang. Apalagi menyangkut besi jika dibiarkan akan menjadi besi tua bukan? Pendapat ini tentu anda akan setuju. Sebelumnya terlintas dipikiran saya, selama 3 tahun ini sudah seperti apa kereta api yang dibeli dengan harga 20 Miliar tersebut.

Minggu kemaren saya berkesempatan mengunjungi KA yang sudah lama tidak saya “silaturrahmi” setelah tempat parkirnya dipindahkan dari Krueng Geukueh ke Krueng Mane. Kabar berpindahnya KA ke Krueng Mane saya dengar dari beberapa orang kawan dekat yang pernah kesana dan mendengar dari orang. Tapi setelah kemaren saya terjun ke stasiun Krueng Mane KA tersebut tidak berada disana. Akhirnya saya menanyakan ke masyarakat setempat dimana posisi KA itu sekarang. Alhasil saya mendapat jawaban bahwa KA tersebut sekarang berada di Bungkaih. Alhamdulillah dari hasil kunjungan saya Minggu 29 April 2012 saya melihat KA tersebut dalam kondisi fisik luar yang bagus. Tidak nampak karatan dari luar walau ada sedikit abu yang lama mungkin tidak dibersihkan.

Berikut ini foto-foto stasiun Bungkaih dan Kereta Api Aceh disana.

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Tuesday, April 10th, 2012 | Author:

Ada banyak objek wisata Islami pasca Tsunami Aceh 2004 yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Kubah Masjid Al-Tsunami yang ada di Kampung Gurah kecamatan Pekan Bada Aceh Besar ini. Kubah Masjid ini terbawa gelombang dahsyat tsunami dari desa Lamteungoeh ke desa Gurah sejauh lebih kurang 2,5 KM. Menurut informasi masyarakat setempat bahwasanya kubah tersebut ketika tsunami terbawa lebih dari posisi saat ini yaitu pada koordinat 5°31’56″N 95°15’47″E tapi ketika air laut surut kubah tersebut mengikuti arus hingga menempati pada posisi sekarang. Berikut ini foto-foto kubah masjid yang dibawa gelombang tsunami 2004.

Kubah Masjid Tsunami

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Thursday, November 24th, 2011 | Author:

ikon-festival-kopi“Boeh tajak jeip kupi Aceh sedunia” itulah kata-kata yang saya ucapkan ketika mendengar akan diselenggarakan Aceh Coffee Festival pada tanggal 25 – 27 november 2011 (Jum’at – Minggu) di Taman Sari Banda Aceh. Pergelaran yang bertajuk “Kopi Aceh Untuk Dunia” ini akan dihadiri oleh berbagai macam komunitas di Aceh seperti Komunitas Android, Berry, iPhone, Fotografer, Magician (scream), @IloveAceh,  Aceh Blogger, KasKus Aceh (RATM), dan beberapa komunitas lainnya. Tidak ketinggalan, Kepala daerah dan masyarakat Aceh akan berbondong-bondong untuk meramaikan acara tersebut.

Aceh Coffee Festival merupakan serangkaian acara yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh dalam mensukseskan dan memperkenalkan Aceh kepada dunia melalui program Visit Banda Aceh 2011. Festival ini akan mengangkat profil dan potensi Aceh sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas internasional seperti kopi gayo, kopi lamno dan kopi luwak. Serta promosi bagi pengusaha kopi dan pemilik warung kopi yang ada di Aceh juga luar Aceh agar lebih dikenal oleh masyarakat dunia.

Selain itu, nantinya akan ada parade magic dari komunitas Scream, ngopi bareng rombongan pawai 1 muharram, ngopi bareng peserta rally wisata, dan kompetisi hunting foto, juga aneka fun games yang bisa diikuti oleh teman-teman komunitas.

Kopi Aceh memang lebih mendunia paska gempa bumi dan tsunami 2004 yang melanda negeri ini. Pekerja NGO baik dari luar negeri maupun dalam negeri di sela-sela kerjanya menyempatkan diri mencicipi  kopi Aceh yang terkenal dan tersebar dimana-dimana dengan aroma dan khasnya yang berbeda-beda. Maka tidak heran, seorang Bill Clinton mantan presiden Amerika menganggumi aroma dan khasnya Kopi Aceh sejak ia bertandang ke bumi Aceh pada masa rehab rekon.

Mari diakhir pekan ini, ajak kawan kerabat untuk meramaikan pergelaran akbar ini dengan menikmati secangkir kopi Aceh sedunia.. Sluuurppss..

Possibly Related Posts:


Friday, October 07th, 2011 | Author:

Bencana alam gempa bumi  dan tsunami tahun 2004 telah meluluhlantahkan bumi Aceh, Nias dan sebagian belahan bumi lainnya seperti Thailand, Malaysia dan Srilanka. Menelan korban yang tidak tanggung-tanggung kurang lebih 200.000 jiwa meninggal dan hilang telah membuat semua orang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Tidak hanya itu, kebakaran, angin kencang, banjir dan tanah longsor juga menjadi “pelanggan tetap” musibah yang terus melanda negeri kita tercinta ini.

Salah satu strategi mengurangi risiko bencana adalah dengan membangun sistem informasi kebencanaan. Hal ini untuk mempermudah aksi terutama pemangku kepentingan (stake holder)  dalam melakukan kesiapsiagaan dan pencegahan ke depan. Pembuatan sistem informasi kebencanaan telah membawa dampak baik dari berbagai bencana alam berskala besar, seperti El nino  di Peru, badai Mitch di Honduras, dan gempa bumi di El Savador. Indonesia juga sudah memulainya dengan diluncurkan sebuah produk kebencanaan berbasis web pada tanggal 29 juli 2008 yang dikenal dengan Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI).

diba-hiyyder

Bagaimana dengan Aceh?

Pasca gempa bumi dan tsunami 26 desember 2004, Aceh mulai membenah diri dengan perbaikan di segala bidang. Dengan banyak bantuan dari pihak luar, telah  memudahkan rekonstruksi dan rehabilitasi terbangun dengan cepat walau ada kurang disana-sini. Tidak sedikit bantuan dalam penguatan data juga tersebar di kantor-kantor pemerintahan dan  non pemerintahan. Untuk data histori kebencanaan saja baru hadir secara online pada maret 2010 yang diinisiasi oleh Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Unsyiah. Sistem informasi ini dikenal dengan sebutan DIBA, yaitu singkatan dari Data Informasi Bencana Aceh.

DIBA adalah sebuah sistem yang dirancang sebagai database informasi dan analisa statistik bencana alam di Aceh dan berperan sebagai media pendukung keputusan untuk pengurangan risiko bencana.  Begitu penjelasan Fachrul Fikri di sela-sela waktu kerjanya di Pusat Riset.[]

Possibly Related Posts:


Check Google Page Rank