Tag-Archive for » tsunami «

Monday, December 31st, 2012 | Author:

Mengelilingi Aceh merupakan kesukaan yang tiada banding. Salah satunya adalah mengunjungi kepulauan simeulue. Simeulue merupakan sebuah kabupaten yang ada di provinsi Aceh dan berada di samudera hindia. Dengan luas wilayahnya 203.148,63 hektar membuat simeulue terbagi menjadi 8 kecamatan yang mencakup 138 desa. Secara tofografis, simeulue merupakan daerah datar, bergelombang, berbukit dan bergunung curam dengan ketinggian yang tidak relatif tinggi. Mungkin sekitar 200 hingga 500 meter diatas permukaan laut.

Untuk bisa sampai ke pulau Simeulue ada 2 alternatif transportasi. Yaitu udara dan laut. Jika anda ingin menempuh jalur udara, sekarang bisa ditempuh melalui bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh. Sebelumnya jalur udara menuju ke Simeulue hanya bisa ditempuh melalui bandara Polonia Medan dengan menggunakan maskapai penerbangan SUSI Air dan Merpati. Harga tiketnya via medan juga bervariasi. Untuk maskapai Merpati lebih murah dibandingkan SUSI Air yaitu sekitar 400 rb (2011) dan untuk SUSI Air sekitar 700 rb.  Jika anda menanyakan ke saya mana yang lebih nikmat dari kedua itu. Keduanya sama-sama enak. Jika anda tahan dengan kebisingan suara mesin, menaiki pesawat SUSI air lebih mengasyikkan. Anda akan menikmati pemandangan yang luar biasa yang tidak anda dapatkan pada merpati. Sekali-kali untuk mengelak awan sang pilot akan melakukan manuver. Selain itu ia memiliki jendela yang lebih besar dari pesawat Merpati, dan anda akan seru melihat kecanggihan teknologi pesawat cesna beserta pilotnya yang ganteng-ganteng, semuanya bule. Hehe.

cesna-susi-air

landing

Rute laut adalah alternatif kedua. Rute ini berangkat dari pelabuhan air di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Waktu tempuh sekitar 9 jam menggunakan feri KMP Sinabang.  Jadwal pemberangkatan dari labuhan haji setiap hari Selasa, Jum’at dan Minggu jam 22.00 WIB.

KMP teluk Sinabang

Di Simeulue memiliki banyak tempat wisata. Seperti Pantai besung, pantai ganting, pantai alus-alus,  naibos,  danau lawik tawar,   makam Teungku Diujung, Makam  Tgk. Bakudo Batu (Banurullah), Taman laut Terumu Karang dan banyak lainnya. Pantai besung adalah salah satu pantai yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Pantai ini selain bersih, memiliki pasir putih dengan air yang bening. Gelombangnya juga tidak terlalu besar dan tenang, memang cocok untuk liburan keluarga di akhir pekan.

Sunset di Pantai Besung

Wisata Religi

Makam Teungku Diujung merupakan sebuah makam keramat yang berada di Kampung Latak Ayah desa Kuta Padang kecamatan Simeulue Tengah. Beliau adalah seorang ulama yang juga pendakwah yang dulunya menyebarkan agama Islam di Pulau ini. Hampir seluruh penduduk di pulau ini berhasil ia Islamkan.  Tsunami tahun 1907 dan 2004 yang dikenal dahsyatnya tidak membuat makam ini rusak. Penduduk disana sangat menghormati makam tersebut sehingga beberapa kawan yang sudah lama tinggal disana melarang saya mengambil gambar di makam itu karena ditakutkan akan terjadi hal ghaib yang mungkin tidak diinginkan.

Makam Tengku Bakudo Batu (Banurullah) adalah salah satu tempat wisata islami lainnya yang patut dikunjungi.  Beliau juga salah seorang ulama yang menyebarkan Islam disana ketika masa Kesultanan Iskandar Muda. Ini dibuktikan dengan adanya prasasti tujuh batu penyangga yang khusus dikirimkan sultan untuk mendirikan masjid yang sekarang berada di  desa Salur, Teupah Barat. Ketika saya menziarahi makam tersebut, salah seorang penduduk disana bercerita, bahwa di pokok (pohon) diatas makam ini ada sumber mata air yang tak pernah kering. Tapi sejak makam tersebut sekelilingnya di semen, air tersebut  sudah mengering.

makam-tgk-bakudo-batu-banurullah

Wisata Tsunami

Smong. itulah istilah yang digunakan masyarakat disana untuk Tsunami. Beranjak dari peristiwa Tsunami tahun 1907 masyarakat disini sangat paham jika air laut sudah surut. Tahun 1907 menjadi pelajaran penting bagi penduduk Simeulue saat itu yang selamat dimana ketika air laut surut masyarakat berlomba-lomba mendapatkan ikan dengan mudahnya. Tapi tidak mengira akan datang gelombang Tsunami (Smong) yang menghantam daratan dan memakan banyak korban.

Sekarang, sisa-sisa tsunami 1907 masih bisa dilihat dari bekas-bekas terumbu karang yang terhampar jauh ke daratan. Salah satunya yang telah saya kunjungi terletak di desa Naibos. Terumbu Karang ini terdampar di persawahan masyarakat setempat dengan jarak dari bibir pantai sekitar 500 meter. Padahal Tsunami 2004 saja tidak sampai sejauh itu yang hanya berpaut 100 hingga 300 meter dari bibir pantai. Objek wisata seperti ini sudah seharusnya dicanangkan dengan baik seperti yang dilakukan di Jepang.  Tapi sayang, pemerintah Simeulue belum benar-benar menggarap wisata Tsunami ini.

terumbu-karang-terhempas-jauh-tsunami-1907-simeulue

Masih di kawasan Naibos, disini kita bisa menatap pemandangan yang indah dengan panorama pohon-pohon kelapa yang tinggi. Air-air laut yang jernih membuat kita sangat ingin bisa berenang dilaut  tersebut. Bekas-bekas peninggalan perlawanan di masa penjajahan  juga masih tertata dengan baik.

benteng-pertahanan-di-desa-naibos

Wisata Kuliner

Simeulue terkenal dengan udang lobster nya. Penduduk disana menyebutnya dengan lahok. Lobster memang menjadi komuditi terkenal yang dipasok ke luar negeri seperti Jepang. Tidak heran, ketenaran lobster simelue diakui oleh Menteri Komunikasi dan Informatika dalam akun twitternya  yang bunyinya Subhanallah, rupanya ini lobster simeulue yg diekspor ke jepang dan manca negara itu…? *hiuks2*”. Tidak percaya? silahkan buka link http://pics.lockerz.com/s/203535630 untuk memastikan :)

Saya juga sudah merasakan kenikmatan lahok simeulue ini ketika travelling kesana. Sampai puyeng makannya karena  kolestorel binatang laut ini terlalu tinggi. Ayo dicoba.. Laziiiiisss..

lobster-yang-sudah-di-goreng

Tulisan ini diikutsertakan untuk mengikuti Kontes Blog MySelangorStory 2013 :)

MySS 2011: http://blog.adikcilak.com/2011/08/31/malaysia-menjalin-silaturrahmi-berobat-dan-wisata/


Possibly Related Posts:


Tuesday, April 10th, 2012 | Author:

Ada banyak objek wisata Islami pasca Tsunami Aceh 2004 yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Kubah Masjid Al-Tsunami yang ada di Kampung Gurah kecamatan Pekan Bada Aceh Besar ini. Kubah Masjid ini terbawa gelombang dahsyat tsunami dari desa Lamteungoeh ke desa Gurah sejauh lebih kurang 2,5 KM. Menurut informasi masyarakat setempat bahwasanya kubah tersebut ketika tsunami terbawa lebih dari posisi saat ini yaitu pada koordinat 5°31’56″N 95°15’47″E tapi ketika air laut surut kubah tersebut mengikuti arus hingga menempati pada posisi sekarang. Berikut ini foto-foto kubah masjid yang dibawa gelombang tsunami 2004.

Kubah Masjid Tsunami

Mau lanjut baca? klik ini…

Possibly Related Posts:


Friday, October 07th, 2011 | Author:

Bencana alam gempa bumi  dan tsunami tahun 2004 telah meluluhlantahkan bumi Aceh, Nias dan sebagian belahan bumi lainnya seperti Thailand, Malaysia dan Srilanka. Menelan korban yang tidak tanggung-tanggung kurang lebih 200.000 jiwa meninggal dan hilang telah membuat semua orang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal. Tidak hanya itu, kebakaran, angin kencang, banjir dan tanah longsor juga menjadi “pelanggan tetap” musibah yang terus melanda negeri kita tercinta ini.

Salah satu strategi mengurangi risiko bencana adalah dengan membangun sistem informasi kebencanaan. Hal ini untuk mempermudah aksi terutama pemangku kepentingan (stake holder)  dalam melakukan kesiapsiagaan dan pencegahan ke depan. Pembuatan sistem informasi kebencanaan telah membawa dampak baik dari berbagai bencana alam berskala besar, seperti El nino  di Peru, badai Mitch di Honduras, dan gempa bumi di El Savador. Indonesia juga sudah memulainya dengan diluncurkan sebuah produk kebencanaan berbasis web pada tanggal 29 juli 2008 yang dikenal dengan Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI).

diba-hiyyder

Bagaimana dengan Aceh?

Pasca gempa bumi dan tsunami 26 desember 2004, Aceh mulai membenah diri dengan perbaikan di segala bidang. Dengan banyak bantuan dari pihak luar, telah  memudahkan rekonstruksi dan rehabilitasi terbangun dengan cepat walau ada kurang disana-sini. Tidak sedikit bantuan dalam penguatan data juga tersebar di kantor-kantor pemerintahan dan  non pemerintahan. Untuk data histori kebencanaan saja baru hadir secara online pada maret 2010 yang diinisiasi oleh Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Unsyiah. Sistem informasi ini dikenal dengan sebutan DIBA, yaitu singkatan dari Data Informasi Bencana Aceh.

DIBA adalah sebuah sistem yang dirancang sebagai database informasi dan analisa statistik bencana alam di Aceh dan berperan sebagai media pendukung keputusan untuk pengurangan risiko bencana.  Begitu penjelasan Fachrul Fikri di sela-sela waktu kerjanya di Pusat Riset.[]

Possibly Related Posts:


Check Google Page Rank